Filsafat Plato

  1. BIOGRAFI PLATO

 

Plato lahir di Athena dan hidup tahun 427-347 SM,yang berasal dari keluarga Aristrokrat Athena.Ayahnya bernama Ariston,seorang bangsawan keturunan Raja Kordus.Sebagai raja terakhir Athena yang hidup sekitar 1068 SM,yang sangat dikagumi rakyatnya oleh karena kecakapan dan kebijaksanaannya.Ibunya bernama Periktione keturunan Solon,tokoh legendaris dan negarawan agung di Athena.Nama Plato yang sebenarnya adalah ARISTOKLES.Karena dahi dan bahunya yang amat lebar,ia memperoleh julukan “plato” dari seorang pelatih senamnya.Plato dalam bahasa yunani berasal dari kata benda “paltos” (kelebarannya) atau (lebar) yang dibentuk dari kata sifat “platus” yang berarti lebar.Dengan demikian nama “PLATO” berarti si lebar.Julukan yang diberikan oleh pelatih senamnya ini menjadi cepat popular dan menjadi panggilannya sehari-hari,bahkan kemudian menjadi nama yang diabadikannya lewat seluruh karyanya.[1]

Setelah ayahnya meninggal,ibunya dinikahi pamannya, Pyrilampes, seorang politikus.Sejak itulah ia mendapat asuhan didalam keluarga pamannya sekaligus ayah tirinya tersebut.Dari keluarga barunya ini,ia banyak belajar tentang politik.Ia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh politik di Athena.Pergaulannya ini sempat menumbuhkan keinginannya untuk menjadi politikus ulung.Akan tetapi,etelah ia mengamati,ternyata ia menemukan bahwa seluruh rezim politik buruk.Karena itulah,ia memupuskan cita-citanya dan focus mendalami dunia pemikiran.

Plato merupakan filsuf kedua yang lahir di Athena setelah Socrates.Ia berguru kepada Socrates selama delapan tahun dan dan bersahabat dengannya sejak kecil.Ia sangat setia mendampingi dan belajar kepada gurunya tersebut.Bahkan,hingga gurunya meninggal karena dihukum mati,ia masih sempat belajar kepada kebijaksanaan gurunya yang berani menghadapi hukuman mati demi kebenaran yang dipertahankannya.Setelah gurunya meninggal,ia berkelana meninggalkan Athena untuk menambah pengalaman dan pengetahuannya. Beberapa wilayah yang pernah ia datangi adalah Mesir, Persia dan India. Pada umumnya,ia berkelana ke kawasan Eropa, Asia dan Afrika.Pengembaraan ini dimulai pada saat usianya mencapai 28 tahun.

Pada usia 40 tahun,Plato kembali ke Athena dan segera mendirikan sekolah yang diberi nama Akademia.Nama sekolah itu diambil dari nama pahlawan legendaris Athena yang bernama Akademos.Plato menjadikan sekolahnya sebagai pusat ilmu pengetahuan.Jika memakai istilah sekarang,sekolah ini dapat disebut universitas,karena menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan pada masanya.Dengan mendirikan sekolah tersebut,Plato tercatat sebagai orang pertama yang mendirikan perguruan tinggi.Ia mengepalai perguruan tinggi yang didirikannya ini sampai meninggal.[2]

 

  1. IDEALISME PLATO

Doktrin Idealisme memiliki akar yang mendalam dalam sejarah pemikiran manusia, dan bentuknya bermacam-macam. Kata “idealisme” adalah salah satu kata yang memainkan peran penting sepanjang sejarah filsafat. Idealisme memainkan peran pertamanya dalam tradisi filsafat ditangan Plato, yang mengemukakan teori tertentu tentang akal dan pengetahuan manusia. Teori ini dikenal dengan nama “teori bentuk-bentuk Platonik.”

Plato adalah seorang idealis. Tetapi idealisme Plato tidak berarti mengingkari realitas-realitas terindrawi, tidak pula berarti melepaskan pengetahuan, empirikal dari realitas-realitas objektif yang tidak bergantung pada wilayah konsepsi dan pengetahuan. Tapi Plato mengukuhkan objektifitas presepsi indrawi. Plato bahkan menyatakan tentang objektifitas pengetahuan rasional, yang mengungguli pengetahuan empirikal, dengan menegaskan bahkan pengetahuan rasional[3] mempunyai hakikat objektif yang tak bergantung pada proses akal (intellection), sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian pembahasan di atas.

Demikianlah, kita tau bahwa idealisma kuno adalah satu orak berlebihan didalam mempercayai realitas objekitif, karena ia percaya kepada realitas objektifitas pengindraan, yaitu mengetahui gagasan yang berkenaan dengan indera, dan realitas pengetahuan rasional, yaitu mengetahui gagasan secara umum. Ia sama sekali tidak mengingkari atau meragukan realitas.

Agar peranan dalam idealisme dalam teori pengetahuan manusia semakin jelas, maka kami sebagai penulis akan menyuguhkan tendensi penting tentang idealisme Plato yang hingga kini masih terkenal.

 

B.1.TENTANG DUNIA IDE-IDE

Aliran idealisme ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. Plato menyatakan bahwa alam cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanya berupa bayangan saja dari alam ide.

Dari situlah titik berangkat seluruh pemikiran filsafat plato. Yaitu tentang gagasannya mengenai dunia ide-ide. Ini adalah sumbangsihnya yang paling penting. Dunia ide-ide ini dikembangkan dari pemikiran gurunya, Socrates. Sebagaimana telah diketahui, Socrates memiliki definisi-definisi yang diperoleh melalui metode induksi. Oleh Plato, ia membawa jauh definisi itu ke alam ide-ide.

Ide-ide disini tidak berarti gagasan atau cita-cita, sebagaimana dalam bahasa Indonesia, atau orang modern. Orang modern sendiri berpendapat bahwa ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di pemikiran saja. Ide sendiri berasal dari kata yunani, yaitu idea atau eidos, yang berarti visi atau kontemplasi. Bagi Plato, ide-ide merupakan asal-usul bagi segala sesuatu.[4] Dia tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusialah yang tergantung pada ide. Ide sendiri adalah citra pokok, perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, serta tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Ide-ide ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Sehubungan dengan itu, ide-ide Plato tidak tergantung pada pemikiran. Ide-ide tersebut juga tidak bergantung pada hal-hal yang nyata dan dapat diindra. Sebaliknya,pemikiran dan hal-hal yang dapat diindra tergantung kepada ide-ide. Jika ide-ide tidak ada,maka pemikiran dan hal-hal yang dapat diindra tidak akan pernah ada. Disini terlihat bagaimana Plato mengembangkan definisi yang ditemukan gurunya,Socrates. Dari sini pula, perbedaan definisi Socrates dengan ide-ide Plato tampak nyata. Bagi Plato,definisi ditemukan karena adanya dunia ide-ide. Jika Socrates berangkat dari hal-hal yang khusus,maka Plato memulai dari hal-hal yang umum menuju yang khusus (deduksi).Sebab,hal-hal yang khusus berasal dari yang umum (ide-ide).Oleh karena itu,bagi Plato,yang abadi adalah dunia ide-ide dan segala yang tampak nyata adalah contohnya.

Selain itu,Plato juga mengatakan bahwa ide-ide tidak lepas dari ide-ide yang lain,karena di dalam “satu ide” terdapat “ide ganjil”.Misalnya,di dalam “api” terdapat “ide api” dan “ide panas” dan pada kenyataannya terdapat banyak ide,seperti ide panas,ide dingin,ide air,ide api dan lain sebagainya.Dan hubungan antar ide ini ia sebut sebagai persekutuan (koinonia).

Lebih jauh lagi,menurut Plato,dalam dunia ide-ide terdapat hierarki.Dan puncak dari segala ide adalah ide “yang baik”,yang diibaratkan matahari yang menjadi penerang segala Sesutu.Demikian jug aide “yang baik” merupakan sebab pengetahuan dan kebenaran.Oleh karena itu,ide yang “baik” berada di tempat yang paling tinggi dan paling indah daripada ide-ide yang lain.[5]

 

B.2. TENTANG DUA DUNIA

Yang dimaksud dua dunia disini adalah dunia jasmani yang terdiri dari benda-benda yang dapat ditangkap oleh indra,dan dunia ide yang terdiri dari ide-ide yang menampakkan diri melalui rasio.Dalam dunia jasmani terdapat perubahan,sedangkan dalam dunia ide tidak terdapat perubahan.Ide-ide itu abadi selamanya.

Bagi Plato,dunia ide adalah model bagi dunia jasmani.Jadi dunia jasmani adalah gambaran tidak sempurna dari dunia ide karena hanya meniru model dunia ide yang sempurna.Akan tetapi jika dunia jasmani semakin meniru dan semakin menyerupai dunia ide,maka dunia jasmani itu semakin baik.Dengan kata lain,ukuran baik dan tidaknya segala sesuatu bukan terdapat pada jiwa seseorang,melainkan pada dunia ide yang menjadi model untuk dunia jasmani.

Dari sini dapat diketahui bahwa Plato telah menyatukan perbedaan pandangan antara Parmenides dan Herakleitos.Bagi Plato,”yang ada” menurut Parmenides adalah dunia ide,sedangkan “yang mengalir” menurut Herakleitos adalah dunia jasmani.Sebagai contoh,gambar segitiga bisa dihapus dari buku-buku,tetapi ide tentang segitiga tersebut tetap masih ada.

 

B.3. TENTANG ANALOGI GUA

Untuk lebih memahami tentang dua dunia,Plato sengaja mengisahkan mitos gua ini.Cerita mitos ini cukup terkenal di kalangan para filsuf.

Konon di dalam sebuah gua bawah tanah,ditempatkanlah orang-orang tahanan yang terbelenggu sejak masa kecil mereka. Leher dan kaki mereka terbelenggu sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat berpindah tempat,bahkan kepala mereka pun tidak dapat bergerak, sehingga mereka hanya dapat memandang ke depan ke dinding gua. Mereka duduk membelakangi lubang masuk gua yang terbuka bagi cahaya dari luar untuk menerobos masuk ke dalam gua di waktu siang. Namun sumber cahaya tetap bagi mereka berasal dari api unggun yang terus menerus menyala yang terletak di tempat yang agak tinggi, sedikit jauh di belakang mereka, berada di atas lubang masuk gua. Diantara api unggun dan para tahanan itu ada jalan yang letaknya lebih rendah dari api unggun, namun lebih tinggi dari tempat para tahanan itu terbelenggu. Jalan itu senantiasa dipenuhi oleh orang-orang yang hilir mudik menjunjung berjenis-jenis barang / benda seperti meja, kursi, patung manusia, patung hewan, baik yang terbuat dari kayu maupun batu dan juga barang-barang lain. Karena letak jalan yang dipenuhi oleh orang-orang yang hilir mudik itu lebih rendah dari letak api unggun, maka bayangan yang terpantul ke tembok di depan para tahanan itu hanyalah bayangan dari berbagai jenis benda yang dijunjung oleh orang-orang yang hilir mudik itu saja. Dan bayangan itu sajalah yang setiap saat dilihat oleh para tahanan itu selama hidup mereka, sehingga semakin lama semakin mereka percaya bahwa bayangan itulah realitas yang sebenarnya.

Gua yang berada dibawah tanah itu tidak lain daripada dunia yang dapat dilihat dan diraba. Gua itu melukiskan dunia indrawi. Para tahanan adalah gambaran manusia yang terbelenggu oleh tubuhnya dengan perlengkapan panca indra yang terbatas,sedangkan bayang-bayang yang mereka lihat setiap saat itu adalah kenyataan-kenyataan indrawi.

Selanjutnya Plato melukiskan apa yang akan terjadi seandainya salah seorang dari tahanan itu dilepaskan dari belenggunya dan diperkenankan keluar dari gua itu. Pada mulanya ia menyangka bahwa ia telah keluar dari dunia nyata dan memasuki dunia bayangan atau dunia impian.Namun lambat laun ia menyadari bahwa sesungguhnya apa yang ia lihat di dalam gua di bawah tanah itu,hanyalah bayangan belaka, sedangkan segala sesuatu yang ada diluar gua adalah kenyataan yang sebenarnya.

Kenyataan yang sebenarnya ialah realitas yang ada di dalam dunia ide,sedangkan orang yang mengetahui realitas yang sebenarnya itu adalah orang yang telah terlepas dari belenggu di dalam gua itu,yaitu orang yang memiliki pengetahuan.Orang itu adalah filsuf, pecinta kebenaran. Ia senantiasa berusaha memperoleh pengetahuan yang benar dan tidak mau ditipu oleh berbagai bayangan tiruan yang tertangkap oleh panca indra. Hanya orang yang telah terlepas dari belenggu itu yang mengetahui bahwa apa yang terlihat di dalam gua itu bukanlah realitas yang sebenarnya.[6]

A.KESIMPULAN

Plato lahir di Athena dan hidup tahun 427-347 SM,yang berasal dari keluarga Aristrokrat Athena. Dia adalah murid sekaligus teman Socrates. Tentang idealisme, Plato sendiri mencontohkan tentang manusia yang berada di dalam gua.

Sumbangsihhnya yang paling pentinga adalah tentang ide. ide-ide merupakan asal-usul bagi segala sesuatu. Ide tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusialah yang tergantung pada ide. Ide sendiri adalah citra pokok, perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, serta tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Ide-ide ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Plato juga mengabungkan perbedaan pandangan antara Parmenides dan Herakleitos. Yaitu tentang Dunia ide adalah model bagi dunia jasmani dan gambaran tidak sempurna dari dunia ide, karena hanya meniru model dunia ide yang sempurna. Dan bila dunia jasmani semakin meniru dan semakin menyerupai dunia ide, maka dunia jasmani itu semakin baik. Dengan kata lain,ukuran baik dan tidaknya segala sesuatu bukan terdapat pada jiwa seseorang, melainkan pada dunia ide yang menjadi model untuk dunia jasmani. Seperti contoh yang sudah diungkapkan di halaman sebelumnya

DAFTAR PUSTAKA

Cholil, MH, Filsafat Umum,

Rahman, Arif Masykur, Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat

Bagus Lorens, 2005, Kamus Filsafat, Jakarta:Gramedia cet.IV

As- Shadr, Muhammad Baqir, Falsafatuna, 1999, mizan, cet VII

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum , 2000, Rosda

http: /id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Filsafat/Plato

Gazalba, Sidi, 1992, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang

http://hidayatkaryadi.blogspot.com//

http://slideshare.net/syifasyifa3557//

http://dakir.wordpress.com/2009/04/18/filsafat-plato

[1] Filsafat Umum Hal.21-22

[2] Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat,Hal 149-150

[3] Yaitu tentqng bentuk-bentuk umum, seperti mengetahui gagasan “manusia”, “air”, dan “cahaya.”

[4] Kamus Filsafat,Lorens Bagus (Jakarta:Gramedi,2005),cet.IV,hlm.297

[5] Buku Pintar Sejarah Filsafat,Masykur Arif Rahman,hlm.152-153

[6] Filsafat Umum,Drs.H.Moh.Hasyim Cholil,MBA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s