Filsafat Plato

  1. BIOGRAFI PLATO

 

Plato lahir di Athena dan hidup tahun 427-347 SM,yang berasal dari keluarga Aristrokrat Athena.Ayahnya bernama Ariston,seorang bangsawan keturunan Raja Kordus.Sebagai raja terakhir Athena yang hidup sekitar 1068 SM,yang sangat dikagumi rakyatnya oleh karena kecakapan dan kebijaksanaannya.Ibunya bernama Periktione keturunan Solon,tokoh legendaris dan negarawan agung di Athena.Nama Plato yang sebenarnya adalah ARISTOKLES.Karena dahi dan bahunya yang amat lebar,ia memperoleh julukan “plato” dari seorang pelatih senamnya.Plato dalam bahasa yunani berasal dari kata benda “paltos” (kelebarannya) atau (lebar) yang dibentuk dari kata sifat “platus” yang berarti lebar.Dengan demikian nama “PLATO” berarti si lebar.Julukan yang diberikan oleh pelatih senamnya ini menjadi cepat popular dan menjadi panggilannya sehari-hari,bahkan kemudian menjadi nama yang diabadikannya lewat seluruh karyanya.[1]

Setelah ayahnya meninggal,ibunya dinikahi pamannya, Pyrilampes, seorang politikus.Sejak itulah ia mendapat asuhan didalam keluarga pamannya sekaligus ayah tirinya tersebut.Dari keluarga barunya ini,ia banyak belajar tentang politik.Ia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh politik di Athena.Pergaulannya ini sempat menumbuhkan keinginannya untuk menjadi politikus ulung.Akan tetapi,etelah ia mengamati,ternyata ia menemukan bahwa seluruh rezim politik buruk.Karena itulah,ia memupuskan cita-citanya dan focus mendalami dunia pemikiran.

Plato merupakan filsuf kedua yang lahir di Athena setelah Socrates.Ia berguru kepada Socrates selama delapan tahun dan dan bersahabat dengannya sejak kecil.Ia sangat setia mendampingi dan belajar kepada gurunya tersebut.Bahkan,hingga gurunya meninggal karena dihukum mati,ia masih sempat belajar kepada kebijaksanaan gurunya yang berani menghadapi hukuman mati demi kebenaran yang dipertahankannya.Setelah gurunya meninggal,ia berkelana meninggalkan Athena untuk menambah pengalaman dan pengetahuannya. Beberapa wilayah yang pernah ia datangi adalah Mesir, Persia dan India. Pada umumnya,ia berkelana ke kawasan Eropa, Asia dan Afrika.Pengembaraan ini dimulai pada saat usianya mencapai 28 tahun.

Pada usia 40 tahun,Plato kembali ke Athena dan segera mendirikan sekolah yang diberi nama Akademia.Nama sekolah itu diambil dari nama pahlawan legendaris Athena yang bernama Akademos.Plato menjadikan sekolahnya sebagai pusat ilmu pengetahuan.Jika memakai istilah sekarang,sekolah ini dapat disebut universitas,karena menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan pada masanya.Dengan mendirikan sekolah tersebut,Plato tercatat sebagai orang pertama yang mendirikan perguruan tinggi.Ia mengepalai perguruan tinggi yang didirikannya ini sampai meninggal.[2]

 

  1. IDEALISME PLATO

Doktrin Idealisme memiliki akar yang mendalam dalam sejarah pemikiran manusia, dan bentuknya bermacam-macam. Kata “idealisme” adalah salah satu kata yang memainkan peran penting sepanjang sejarah filsafat. Idealisme memainkan peran pertamanya dalam tradisi filsafat ditangan Plato, yang mengemukakan teori tertentu tentang akal dan pengetahuan manusia. Teori ini dikenal dengan nama “teori bentuk-bentuk Platonik.”

Plato adalah seorang idealis. Tetapi idealisme Plato tidak berarti mengingkari realitas-realitas terindrawi, tidak pula berarti melepaskan pengetahuan, empirikal dari realitas-realitas objektif yang tidak bergantung pada wilayah konsepsi dan pengetahuan. Tapi Plato mengukuhkan objektifitas presepsi indrawi. Plato bahkan menyatakan tentang objektifitas pengetahuan rasional, yang mengungguli pengetahuan empirikal, dengan menegaskan bahkan pengetahuan rasional[3] mempunyai hakikat objektif yang tak bergantung pada proses akal (intellection), sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian pembahasan di atas.

Demikianlah, kita tau bahwa idealisma kuno adalah satu orak berlebihan didalam mempercayai realitas objekitif, karena ia percaya kepada realitas objektifitas pengindraan, yaitu mengetahui gagasan yang berkenaan dengan indera, dan realitas pengetahuan rasional, yaitu mengetahui gagasan secara umum. Ia sama sekali tidak mengingkari atau meragukan realitas.

Agar peranan dalam idealisme dalam teori pengetahuan manusia semakin jelas, maka kami sebagai penulis akan menyuguhkan tendensi penting tentang idealisme Plato yang hingga kini masih terkenal.

 

B.1.TENTANG DUNIA IDE-IDE

Aliran idealisme ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. Plato menyatakan bahwa alam cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanya berupa bayangan saja dari alam ide.

Dari situlah titik berangkat seluruh pemikiran filsafat plato. Yaitu tentang gagasannya mengenai dunia ide-ide. Ini adalah sumbangsihnya yang paling penting. Dunia ide-ide ini dikembangkan dari pemikiran gurunya, Socrates. Sebagaimana telah diketahui, Socrates memiliki definisi-definisi yang diperoleh melalui metode induksi. Oleh Plato, ia membawa jauh definisi itu ke alam ide-ide.

Ide-ide disini tidak berarti gagasan atau cita-cita, sebagaimana dalam bahasa Indonesia, atau orang modern. Orang modern sendiri berpendapat bahwa ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di pemikiran saja. Ide sendiri berasal dari kata yunani, yaitu idea atau eidos, yang berarti visi atau kontemplasi. Bagi Plato, ide-ide merupakan asal-usul bagi segala sesuatu.[4] Dia tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusialah yang tergantung pada ide. Ide sendiri adalah citra pokok, perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, serta tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Ide-ide ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Sehubungan dengan itu, ide-ide Plato tidak tergantung pada pemikiran. Ide-ide tersebut juga tidak bergantung pada hal-hal yang nyata dan dapat diindra. Sebaliknya,pemikiran dan hal-hal yang dapat diindra tergantung kepada ide-ide. Jika ide-ide tidak ada,maka pemikiran dan hal-hal yang dapat diindra tidak akan pernah ada. Disini terlihat bagaimana Plato mengembangkan definisi yang ditemukan gurunya,Socrates. Dari sini pula, perbedaan definisi Socrates dengan ide-ide Plato tampak nyata. Bagi Plato,definisi ditemukan karena adanya dunia ide-ide. Jika Socrates berangkat dari hal-hal yang khusus,maka Plato memulai dari hal-hal yang umum menuju yang khusus (deduksi).Sebab,hal-hal yang khusus berasal dari yang umum (ide-ide).Oleh karena itu,bagi Plato,yang abadi adalah dunia ide-ide dan segala yang tampak nyata adalah contohnya.

Selain itu,Plato juga mengatakan bahwa ide-ide tidak lepas dari ide-ide yang lain,karena di dalam “satu ide” terdapat “ide ganjil”.Misalnya,di dalam “api” terdapat “ide api” dan “ide panas” dan pada kenyataannya terdapat banyak ide,seperti ide panas,ide dingin,ide air,ide api dan lain sebagainya.Dan hubungan antar ide ini ia sebut sebagai persekutuan (koinonia).

Lebih jauh lagi,menurut Plato,dalam dunia ide-ide terdapat hierarki.Dan puncak dari segala ide adalah ide “yang baik”,yang diibaratkan matahari yang menjadi penerang segala Sesutu.Demikian jug aide “yang baik” merupakan sebab pengetahuan dan kebenaran.Oleh karena itu,ide yang “baik” berada di tempat yang paling tinggi dan paling indah daripada ide-ide yang lain.[5]

 

B.2. TENTANG DUA DUNIA

Yang dimaksud dua dunia disini adalah dunia jasmani yang terdiri dari benda-benda yang dapat ditangkap oleh indra,dan dunia ide yang terdiri dari ide-ide yang menampakkan diri melalui rasio.Dalam dunia jasmani terdapat perubahan,sedangkan dalam dunia ide tidak terdapat perubahan.Ide-ide itu abadi selamanya.

Bagi Plato,dunia ide adalah model bagi dunia jasmani.Jadi dunia jasmani adalah gambaran tidak sempurna dari dunia ide karena hanya meniru model dunia ide yang sempurna.Akan tetapi jika dunia jasmani semakin meniru dan semakin menyerupai dunia ide,maka dunia jasmani itu semakin baik.Dengan kata lain,ukuran baik dan tidaknya segala sesuatu bukan terdapat pada jiwa seseorang,melainkan pada dunia ide yang menjadi model untuk dunia jasmani.

Dari sini dapat diketahui bahwa Plato telah menyatukan perbedaan pandangan antara Parmenides dan Herakleitos.Bagi Plato,”yang ada” menurut Parmenides adalah dunia ide,sedangkan “yang mengalir” menurut Herakleitos adalah dunia jasmani.Sebagai contoh,gambar segitiga bisa dihapus dari buku-buku,tetapi ide tentang segitiga tersebut tetap masih ada.

 

B.3. TENTANG ANALOGI GUA

Untuk lebih memahami tentang dua dunia,Plato sengaja mengisahkan mitos gua ini.Cerita mitos ini cukup terkenal di kalangan para filsuf.

Konon di dalam sebuah gua bawah tanah,ditempatkanlah orang-orang tahanan yang terbelenggu sejak masa kecil mereka. Leher dan kaki mereka terbelenggu sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat berpindah tempat,bahkan kepala mereka pun tidak dapat bergerak, sehingga mereka hanya dapat memandang ke depan ke dinding gua. Mereka duduk membelakangi lubang masuk gua yang terbuka bagi cahaya dari luar untuk menerobos masuk ke dalam gua di waktu siang. Namun sumber cahaya tetap bagi mereka berasal dari api unggun yang terus menerus menyala yang terletak di tempat yang agak tinggi, sedikit jauh di belakang mereka, berada di atas lubang masuk gua. Diantara api unggun dan para tahanan itu ada jalan yang letaknya lebih rendah dari api unggun, namun lebih tinggi dari tempat para tahanan itu terbelenggu. Jalan itu senantiasa dipenuhi oleh orang-orang yang hilir mudik menjunjung berjenis-jenis barang / benda seperti meja, kursi, patung manusia, patung hewan, baik yang terbuat dari kayu maupun batu dan juga barang-barang lain. Karena letak jalan yang dipenuhi oleh orang-orang yang hilir mudik itu lebih rendah dari letak api unggun, maka bayangan yang terpantul ke tembok di depan para tahanan itu hanyalah bayangan dari berbagai jenis benda yang dijunjung oleh orang-orang yang hilir mudik itu saja. Dan bayangan itu sajalah yang setiap saat dilihat oleh para tahanan itu selama hidup mereka, sehingga semakin lama semakin mereka percaya bahwa bayangan itulah realitas yang sebenarnya.

Gua yang berada dibawah tanah itu tidak lain daripada dunia yang dapat dilihat dan diraba. Gua itu melukiskan dunia indrawi. Para tahanan adalah gambaran manusia yang terbelenggu oleh tubuhnya dengan perlengkapan panca indra yang terbatas,sedangkan bayang-bayang yang mereka lihat setiap saat itu adalah kenyataan-kenyataan indrawi.

Selanjutnya Plato melukiskan apa yang akan terjadi seandainya salah seorang dari tahanan itu dilepaskan dari belenggunya dan diperkenankan keluar dari gua itu. Pada mulanya ia menyangka bahwa ia telah keluar dari dunia nyata dan memasuki dunia bayangan atau dunia impian.Namun lambat laun ia menyadari bahwa sesungguhnya apa yang ia lihat di dalam gua di bawah tanah itu,hanyalah bayangan belaka, sedangkan segala sesuatu yang ada diluar gua adalah kenyataan yang sebenarnya.

Kenyataan yang sebenarnya ialah realitas yang ada di dalam dunia ide,sedangkan orang yang mengetahui realitas yang sebenarnya itu adalah orang yang telah terlepas dari belenggu di dalam gua itu,yaitu orang yang memiliki pengetahuan.Orang itu adalah filsuf, pecinta kebenaran. Ia senantiasa berusaha memperoleh pengetahuan yang benar dan tidak mau ditipu oleh berbagai bayangan tiruan yang tertangkap oleh panca indra. Hanya orang yang telah terlepas dari belenggu itu yang mengetahui bahwa apa yang terlihat di dalam gua itu bukanlah realitas yang sebenarnya.[6]

A.KESIMPULAN

Plato lahir di Athena dan hidup tahun 427-347 SM,yang berasal dari keluarga Aristrokrat Athena. Dia adalah murid sekaligus teman Socrates. Tentang idealisme, Plato sendiri mencontohkan tentang manusia yang berada di dalam gua.

Sumbangsihhnya yang paling pentinga adalah tentang ide. ide-ide merupakan asal-usul bagi segala sesuatu. Ide tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusialah yang tergantung pada ide. Ide sendiri adalah citra pokok, perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, serta tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Ide-ide ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Plato juga mengabungkan perbedaan pandangan antara Parmenides dan Herakleitos. Yaitu tentang Dunia ide adalah model bagi dunia jasmani dan gambaran tidak sempurna dari dunia ide, karena hanya meniru model dunia ide yang sempurna. Dan bila dunia jasmani semakin meniru dan semakin menyerupai dunia ide, maka dunia jasmani itu semakin baik. Dengan kata lain,ukuran baik dan tidaknya segala sesuatu bukan terdapat pada jiwa seseorang, melainkan pada dunia ide yang menjadi model untuk dunia jasmani. Seperti contoh yang sudah diungkapkan di halaman sebelumnya

DAFTAR PUSTAKA

Cholil, MH, Filsafat Umum,

Rahman, Arif Masykur, Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat

Bagus Lorens, 2005, Kamus Filsafat, Jakarta:Gramedia cet.IV

As- Shadr, Muhammad Baqir, Falsafatuna, 1999, mizan, cet VII

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum , 2000, Rosda

http: /id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Filsafat/Plato

Gazalba, Sidi, 1992, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang

http://hidayatkaryadi.blogspot.com//

http://slideshare.net/syifasyifa3557//

http://dakir.wordpress.com/2009/04/18/filsafat-plato

[1] Filsafat Umum Hal.21-22

[2] Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat,Hal 149-150

[3] Yaitu tentqng bentuk-bentuk umum, seperti mengetahui gagasan “manusia”, “air”, dan “cahaya.”

[4] Kamus Filsafat,Lorens Bagus (Jakarta:Gramedi,2005),cet.IV,hlm.297

[5] Buku Pintar Sejarah Filsafat,Masykur Arif Rahman,hlm.152-153

[6] Filsafat Umum,Drs.H.Moh.Hasyim Cholil,MBA.

Hakikat dan Dampak Dua Kalimat Syahadat

  1. Pengertian Dua Kalimat Syahadat

Kalimat syahadat yang pastinya sudah kita kenal sebelumnya adalah Asyhadu an laa ilaaha illaAllah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, yang berarti Aku bersaksi bahwa tiada Sesembahan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.

Kalimat “Asyhadu” dalam tatanan bahasa Arab adalah bentuk fi’il mudhori’ (kata kerja sekarang atau yang akan dilakukan) dari fi’il madhi (kata kerja lampau) syahida yang berarti persaksian, pernyataan, janji dan sumpah. Maka pernyataan, janji dan sumpah seseorang yang telah bersyahadat tidak hanya berlaku pada saat diucapkan saja, tetapi juga untuk waktu seterusnya. Ia berlaku mengikat sepanjang hayat yang setiap detiknya menuntut pembuktian dari syahadat tersebut.

Dari lafadz laa ilaaha illallah, ilah berarti tidak ada sesembahan, dan taalluh berarti ta’abbud (penyembahan). Adapun makna laa ilaaha illallah adalah tidak ada sesembahan (yang haq) melainkan Allah. Jadi, syahadat laa ilaaha illallah adalah seseorang mengakui lisan dan hatinya bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah SWT, sebab kalimat laa ilaah illallah mengandung unsur peniadaan dan unsur penetapan. Unsur peniadaan adalah laa ilaaha, sedangkan unsur penetapan adalah illallah. Dalam ilmu nahwu, lafadz Allah adalah pengganti khabar laa yang dihapus, dan ma’na eksplisitnya adalah laa ilaaha haq illallah. Adapun dalil syahadat adalah kalam Allah Ta’ala:

شهد الله أنه لا إله إلا هو..

“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia… .”

Kalam Allah Ta’ala (شهد), maksudnya adalah menetapkan, memutuskan, memberitahukan, dan mengharuskan. Syahadat dari Allah berkisar pada keempat makna ini: penetapan, pemutusan, pemberitahuan, dan pengharusan. Jadi, makna ( شهد) adalah Allah Ta’ala memutuskan, memberitahukan, dan mengharuskan hamba-hamba-Nya dengan hal demikian, yaitu ((لا إله إلا هو. Dalam ilmu nahwu, kalimat ((لا إله, laa disini adalah laa nafiyah (laa yang berfungsi peniadaan) yang meniadakan semua sesembahan selain Allah, sedangkan (إلا هو) menetapkan peribadatan hanya untuk Allah. Jadi, makna ((لا إله إلا هو adalah tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah SWT.

Sedangkan dalil syahadat Muhammad adalah utusan Allah adalah dalam surat al- Fath: 29,

محمد رسول الله

“Muhammad adalah utusan Allah,”

قل يأيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا

Katakanlah, “Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)

Makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah menyatakan dengan lisan dan mengimani dalam hati dengan kuat, serta menjelaskannya kepada orang lain bahwa junjungan kita adalah Muhammad bin Abdullah al-Qurasyi Al-Hisyam adalah utusan Allah kepada seluruh makhluk; baik jin maupun manusia, yang benar dalam segala apa yang dia sampaikan dari Allah. Seluruh makhluk-Nya wajib membenarkan dan mengikutinya. Dan barang siapa yang mendustakannya, maka dia dzalim dan kafir, dan barang siapa menyalahi petunjuknya, dia adalah pelaku maksiat dan pasti merugi.

  1. Kandungan Dari Dua Kalimat Syahadat

Iqrar Laa Ilaaha Illallah tidak akan dapat diwujudkan secara benar tanpa mengikuti petunjuk yang disampaikan Rasulullah SAW. Karena itu Iqrar Laa Ilaaha Illallah tidak dapat dipisahkan dari iqrar Muhammad Rasulullah. Dua Iqrar inilah yang dikenal dengan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dan menjadi suatu lambang masyarakat muslim atas prinsip-prinsip mereka dan membedakan wujud masyarakat muslim dengan masyarakat non-muslim, bahwa masyarakat ini berdiri atas dasar penghambaan diri manusia kepada Allah semata dalam seluruh persoalan.

Inti dari syahadatain adalah beribadah hanya kepada Allah SWT semata, dan menjadikan Rasulullah sebagai titik uswatun hasanah. Hal ini terdapat dalam al-Quran pada Q.S al-Ahzab ayat 21, yang artinya : “Sesunggunya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik (uswatun hasanah) bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.”

Jika memang setiap muslim memahami dan mengiqrarkan secara benar syahadatain, in syaa Allah akan memberikan dampak yang besar, antara lain dapat diukur dari sikap yang dilahirkan (cinta) terhadap Allah SWT, dan Rasul-Nya, sebagaimana yang terdapat dalam Q.S al-Baqarah ayat 165 yang artinya : “…Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”
dan Q.S. at-Taubah ayat 24 : “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya maka sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Berdasarkan ayat diatas Abdullah Nasih ‘ulwan membagi cinta (al-mahabbah) kepada tiga tingkatan:

  1. Al-Mahabbatul Ula, yaitu mencintai Allah, Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah.
  2. Al-Mahabbatul Wustha, yaitu mencintai segala sesuatu yang boleh dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dengan cara yang diizinkan-Nya, seperti cinta kepada anak-anak, ibu-bapak, suami atau isri, karib kerabat, harta benda dan lain-lain sebagainya.
  3. Al-Mahabbatul Adna, yaitu mencintai anak-anak, ibu-bapak, suami atau istri, karib kerabat, harta benda dan lain sebagainya melebihi cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah.

Dan apabila seseorang masuk Islam, maka dia harus masuk Islam secara kaffah (total), dia harus menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Nya, bukan hanya sebagian / sepotong-potong saja. Baik kehidupan pibadi, keluarga, masyarakat, bernegara dan kehidupan internasional. Entah yang berhubungan dengan aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, seni, militer, maupun aspek-aspek lainnya. Karena hal tersebut telah tertulis di al-Quran yang berarti : “ Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara kaffah “ (QS. al-Baqarah [2]: 208)

Oleh karena itu marilah kita kaum muslimin menjalankan ajaran-ajaran Islam secara kaffah (total) dalam setiap lini kehidupan. Karena penghambaan kita secara kaffah akan melahirkan dampak-dampak dari penghambaan itu.

  • Dampak Dua Kalimat Syahadat

Beberapa dampak dari dua kalimat syahadat yaitu;

  1. Memperoleh ketenangan menjalankan hidup ini tanpa terpengaruh oleh situasi dan kondisi bagaimanapun.
  2. “ Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, .. “ (QS.ar-Ro’d : 28)
  3. Memotivasi seseorang untuk hidup selalu optimis dengan bimbingan hidayah Allah

“ Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),’Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu” (Q.S. Fussilat : 30)

  1. Hidup yang penuh berkah yang dirasakan oleh mereka yang mengamalkan dengan sebaik-baiknya kalimat syahadat.

“ Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, .. “ (Q.S. al-A’raf : 96)

  1. Tidak boleh dibunuh. Seperti yang tercantum dalam hadits Rasulullah,

امرت ان اقاتل الناس حتى يشهد ان لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله

“ Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah “.

  1. Harta dan jiwanya dijamin oleh Islam.
  2. Seseorang yang telah bersyahadat mempunyai konsekuensi bahwa dia harus melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah, sesuai yang telah tercantumkan di al-Quran atau yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dan masih banyak pula dampak dari Syahadatain, yang mana bisa kita dapatkan di al-Quran ataupun as-Sunnah.

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Syahadatain adalah kalimat persaksian yang menyatakan bahwa Allah adalah sesembahan yang satu dan Muhammad adalah utusan Nya
  2. Syahadatain menduduki posisi penting dalam Islam.Karena tanpa kalimat syahadatain, amal manusia akan sia-sia
  3. Syahadatain mempunyai banyak dampak yang semuanya akan kembali pada orang yang mengucapkannya

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Nasrudin Razak, Dinul Islam, penerbit; PT ALMA’ARIF BANDUNG cetakan II 1973
  • blogspot.in/2011/07/syahadatain.html?m=1
  • Penyusun markaz Al-Urwah Al-Wutsqa, Penjelasan Inti Ajaran Islam. penerbit ; Pustaka Arafah
  • Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, cetakan ke 6, ramadhan 1424 November 2003 M, penerjemah; Fadhli Bahri, Lc. penerbit; darul fikr Beirut, penerbit terjemah; DARUL FALAH
  • Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, Mengenal mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ihsan Secara Terpadu

Psikologi Belajar

A.Pengertian Motivasi
Kata motivasi berasal dari bahasa Inggris, motivation yang berarti dorongan, tujuan, motif. Beberapa ahli ilmu mendefinisikannya berbeda tetapi satu makna, diantaranya Syaiful Bahri Djamarah, motivasi adalah Suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Abdul Rahman Shaleh, motivasi adalah Segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan.
Menurut Dadi Permadi, motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun negatif.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah Dorongan atau keinginan yang ada pada diri seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang dia inginkan.

B.Fungsi Motivasi
Terdapat beberapa fungsi motivasi (dalam hal ini khususnya untuk belajar), diantaranya :
a.Mendorong manusia untuk berbuat
jadi motivasi sebagai motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b.Menentukan arah perbuatan
jadi motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan
rumusan tujuan yang ada.
c.Menyeleksi perbuatan
jadi menentukan perbuatan yang akan dikerjakan agar sesuai dengan tujuan dan
menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat yang tidak sesuai dengan tujuan awal.
Dari ketiga fungsi yang ada, apabila semua terkumpulkan maka akan menghasilkan fungsi yang terakhir, yaitu sebagai pencapaian prestasi atau tujuan yang ada.

C.Macam-Macam Motivasi
Terdapat berbagai macam motivasi sesuai dengan pengelompokannya.
a. Macam motivasi secara umum ada 2, yaitu:

1. Motivasi Intrinsik.
Ada beberapa pendapat mengenai istilah dalam motivasi instrinsik ini. Salah satunya adalah menurut Siti Sumarni yang mengatakan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang. Sobry Sutikno mengartikannya sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa da paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang mucul dari dalam diri seseorang tanpa memerlukan rangsangan dari arah luar.

2. Motivasi Ekstrinsik.
Motivasi Ekstrinsik ini berkebalikan dengan motivasi instrinsik. Menurut Sobry Sutikno, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan sesuatu. Sedangkan menurut A.M. Sardiman motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Dengan demikian motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang karena adanya pengaruh dari luar.

b. Macam motivasi dilihat dari dasar pembentukannya ada 2, yaitu
1. Motif-motif bawaan (sejak lahir)
Contoh : Dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, dll.
2.Motif-motif yang dipelajari
Contoh : Dorongan untuk mempelajari suatu bidang pelajaran, dorongan untuk mengajarkan sesuatu pada masyarakat, dll.

c. Macam motivasi menurut sifatnya ada 3, yaitu:
1.Motivasi takut (fear motivation)
Motivasi yang ada karena adanya rasa takut, entah takut dari arah luar atau hukuman atau lainnya.
2.Motivasi Insentif (insentive motivation)
Motivasi yang ada karena individu ingin mendapatkan sesuatu yang insentif, entah seperti ingin mendapatkan honorarium, hadiah, penghargaan atau lainnya.
3.Motivasi sikap (attitude motivation)
Motivasi yang ada karena untuk menunjukkan rasa ketertarikan atau ketidak tertarikan terhadap obyek, motivasi ini bersifat instrinsik (dari dalam diri individu), berbeda dengan dua macam sebelumnya yang ekstrinsik.

d. Motivasi menurut Abraham Maslowada ada 5, yaitu:
1.Motif fisiologis
yaitu dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan makan, minum, bernafas, bergerak dll.
2.Motif pengamanan
yaitu dorongan-dorongan untuk menjaga atau melindungi diri dari gangguan.
3.Motif persaudaraan dan kasih sayang
yaitu motif untuk membina hubungan baik dengan jenis kelamin yang sama maupun yang berbeda.
4.Motif harga diri
yaitu motif untuk mendapatkan pengenalan, pengakuan penghargaan dan penghormatan dari orang lain.
5.Motif aktualisasi diri
Potensi dan kodrat manusia sebagai manusia yang dibawa sejak lahir perlu diaktualkan dalam berbagai bentuk isfat, kemampuan dan kecakapan nyata.

D. Bentuk-Bentuk Motivasi
1. Pemberian angka
Angka atau nilai merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi mereka di masa mendatang. Akan tetapi perlu diketahui guru, bahwa sekiranya juga dibutuhkan nilai yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan, sehingga dari aspek ketrampilan dan afeksinya pun didapat (tidak sekedar kognitif).
2. Hadiah.
Sama dengan angka, hadiah juga dapat membuat anak didik untuk mempertahankan atau meningkatkan prestasinya, akan tetapi tetap tidak selalu demikian. Karena hadiah tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang atau tidak berbakat untuk suatu pekerjaan tersebut.
3. Saingan (kompetisi)
Entah persaingan individual atau persaingan kelompok, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar anak didik. Walaupun hal ini banyak dimanfaatkan didalam dunia industri atau perdagangan, tetapi juga baik di dunia pendidikan khususnya dalam hal belajar
4. Ego-Involvement
Bentuk motivasi yang menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri.
5. Pemberian Ulangan
Ini merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak didik agar lebih giat belajar,karena anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Akan tetapi jangan terlalu sering karena dapat menimbulkan rasa kebosanan dan bersifat rutinitas.
6. Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, terlebih apabila terjadi kemajuan, maka hal ini akan mendorong anak didik untuk lebih giat belajar. Semakin tinggi grafik hasil belajarnya, maka semakin tinggi pula motivasinya untuk lebih giat belajar.
7. Pujian
Pujian yang positif dan pemberiannya pun harus tepat, hal ini dapat memberi motivasi anak didik untuk mempertinggi keinginannya untuk belajar.
8. Hukuman
Hukuman yang dimaksud bukanlah hukuman yang bersifat kekerasan yang berujung negatif, akan tetapi yang merupakan alat motivasi dengan cara pendekatan edukatif (hukuman yang bersifat mendidik dan untuk memperbaiki perbuatan anak didik yang salah) yang nantinya akan bernilai positif, sehingga dalam hal ini seorang harus benar-benar memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9. Hasrat untuk Belajar
Hal ini mengandung unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Tetapi hal ini lebih baik dibandingkan segala sesuatu yang tanpa maksud. Hal ini berarti pada diri anank didik memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas dan cenderung akan mendukung aktivitas belajar berikutnya. Minat ini besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar dan juga motivasi utama yang dapat membangkitkan keinginan belajar anak didik. Contohnya jika anak didik memiliki minat yang besar terhadap salah satu mata pelajaran, maka ia akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, dan dapat dipastikan akan terasa mudah baginya karena sebelumnya dia sudah mempunyai minat pada pelajaran tersebut.

E.Implikasi Motivasi dalam Belajar
Motivasi bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab penting akan munculnya perilaku seseorang. Motivasi adalah dorongan, hasrat, yang berasal dari diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Dari motivasi inilah, seseorang akaan terbangkitakan daya geraknya, atau bahkan menggerakkan seseorang dan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau tujuan.
Berkaitan dengan proses belajar, agar tercipta suasana kegiatan belajar mengajar yang efektif namun bisa menghasilkan hasil belajar yang memuaskan, dibutuhkan suatu dorongan dari dalam jiwa siswa. Ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dalam hal ini, motivasi memiliki andil yang cukup besar dalam mendukung keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Guru berperan untuk menetapkan kebutuhan dan motivasi murid-murid berdasarkan tingkah laku mereka yang nampak. Masalah bagi guru ialah bagaimana menggunakan motivasi murid-murid untuk mendorong mereka bekerja mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha untuk mencapai tujuan itu, perubahan tingkah laku diharapkan terjadi. Oleh karena itu, tugas guru ialah memotivasi murid untuk belajar demi tercapainya tujuan yang diharapkan, serta di dalam proses memperoleh tingkah laku yang diinginkan.
Guru sering menggunakan insentif untuk memotivasi murid-murid atau berusaha mencapai tujuan yang diinginkan. Insentif, apapun wujudnya akan berguna hanya apabila insentif itu mewakili tujuan yang akan dicapai yang kiranya memenuhi kebutuhan psikologis murid-murid. Konsekuensinya guru harus kreatif dan imajinasinya di dalam menggunakan insentif untuk memotivasi agar berusaha mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Penggunaan media pengajaran atau alat-alat peraga, memberikan nilai ulangan sebagai pemicu siswa untuk belajar lebih giat, menumbuhkan dan menimbulkan rasa ingin tahu siswa, mengadakan permainan dan menggunakan simulasi, menumbuhkan persaingan dalam diri siswa, merupakan upaya-upaya lain untuk meningkatkan motivasi belajar pada siswa.
Ternyata motivasi memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap proses belajar, baik motivasi internal maupun eksternal. Jika seorang anak tidak mempunyai motivasi dalam dirinya sendiri, maka hasil belajar yang didapatkannya tidak maksimal. Sehingga dia membutuhkan motivasi dari luar, yaitu pemberian motivasi dari orang-orang sekitar.

F. Kesimpulan

Dalam akhir pembahasan kami mengenai motivasi ini, maka dapat kami simpulkan bahwa sejatinya, motivasi yang berupa dorongan maupun keinginan pada diri seseorang itu ada dua macam. Yaitu ekstrinsik dan instrinsik. Dua hal itu cukup membuat seseorang ingin lebih untuk melakukan segala sesuatu.

Sebagai seorang pendidik, maka kita bisa memberikan motivasi pada murid didikan kita dengan banyak hal, seperti yang sudah kami sampaikan di atas. Bisa berupa hadiah, pujian, nilai dan lain-lain. Dari beragam motivasi yang diberikan pada murid ini nanti akan melecut diri anak untuk berubah lebih baik lagi. Jadi dari situ, kami menemukan satu fakta bahwa tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu saja. Tapi juga memberikan motivasi sekaligus memperhatikan kesuksesan dan aktivitas belajar anak didiknya.

Mari kita tengok sedikit pendidikan pada masa keemasan islam. Di sana akan kita temui nama-nama sekaliber Al-khawarizmi penemu angka nol, Ibnu Zahrawani dan Ibnu Sina yang terkenal di bidang kedokteran, lalu para ulama madzhab, dan yang lain. Di samping semangat belajar mereka yang tinggi, kesuksesan mereka ini tentu saja tidak jauh dari peran sang guru.

Guru di zaman itu tidak hanya fokus pada transfer ilmu dan sertifikasi semata, tapi mereka perhatian betul terhadap setiap perkembangan muridnya. Mereka tidak akan mengeluarkan syahadah atau ijazah sebelum murid tersebut diyakinya benar-benar layak untuk mendapatkannya.

Seperti contohnya syaikh ‘Aaq Syamsyudin, guru Al-Fatih, sang penakluk Konstatinopel. Sejak awal syaikh ‘Aaq selalu memberikan motivasi terhadap Al-Fatih kecil, bahwa dia adalah penakluk konstatinopel, dan dia adalah sebaik-baik pemimpin yang dijanjikan Rosulullah. Padahal saat itu, Al-Fatih terkenal dengan kemanjaannya, dan sangat susah untuk di atur. Tapi siapa sangka, rupanya saat Al-Fatih berusia 21 tahun, janji tersebut terlaksana. Dia berhasil menaklukkan konstatinopel, dan menyandang predikat sebagai sebaik-baik pemimpin.

Dengan demikian,seorang guru tidak hanya berperan sebagai pengajar saja tapi juga sebagai pendidik. Salah satunya yaitu dengan memberikan motivasi agar aktivasi belajar terlaksana dan menjadikan anak didiknya sukses dalam belajar.

–semoga bermanfaat..